Sejenak kemi melupakan kesibukan rutinitas
sehari-hari melupakan kebisingin kendaraan bermotor asap knalpot dan tentujuga
rutinitas pribada kami sehari-hari dari pekerjaan atau pun tugas tugas kuliah
yang menunpuk membukit, tp tentu bukan itu saja sejenak kami juga melepas kan
masalah masalah percintaan walau unjung2nya betekak sama si doi gara2 gak
ngapelin dan ninggalin dia 2 hari hehehe maklum bro anak muda, semua ini kami
lakukan untuk semata menikmati keindahan alam dari ALLAh sang pencitpa dan
menghirup udara yang segar walau pun ujungnya kami ngirup abu vulkaniknya
gunung sinabung hehehe, kebetulan sih sinabung lagi bergejolak heheh peaece
mann !!!
Kami ini dari salah satu komunitas pencinta
alam yang ada di kota medan, untuk lebih tepatnya markas kami di Jln Delitua
tepatnya di gang sejarah, nama kumunitas kami adalah IMPALA atau singaktan dari
Ikatan Muda Penjelajah Alam, kami terdiri dari pekerja,mahasiswa,dan seniman
dari musik dan seni rupa fotografer , komunitas kami ni di peruntukan untuk
umum dari semua kalangan dan tidak membatasi, kurang lebih sih anggota kami ada
25 sape 30 an gtu lah tp anggota yg tetap tu ada kurang lebih 15 orangan gtu
termaksud ane hehe :D . so buat kawan2 yg ingin gabung masuk aja di fp kami
nanti kami pasti kasi kabar kalo mau gerak lagi
Untuk kali ini tujuan kami adalah ke gunung
sibayak yang terletak di tanah
karo Sumatra utara yang terletak di desa raja berneh yang mempumyai ketinggian
kurang lebih 2000 meter dari permukaan laut ” , perjalanan
dari medan kurang lebih 2 jaman gtu lah, jarak dari kota medan kurang lebih 54
km yang dapat di tempuh dari simpang pos trus ke arah jamin ginting. Ada banyak
tranportasi ke sana tinggal pilih aja mau naek motor naek angkot untuk lebih
mudahnya lagi naek angkot bisa nunggu di padang bulan jamin giting disana banya
terdapat bus-bus kecil tinggal pilih ajalah pokoknya, tp kemren kami kebetulan
carter anggkot, jadi langsung di jemput di markas kami dan kami langsu di antar
sampe tujuan yaitu debu debu tempat pemandian air hangat sebelum kota beras
tagi
Kami pun berangkat tepat di hari sabtu yang di
bagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok siang dan malam, di bagi menjadi dua
kelompok di karenakan sebagian rekan ada yang masih kerja ato pun kuliah.
Klompok siang terdiri dari 13 orang dan kelompok malam 16 ato 17 gitu lah.
Kebetulan kmarin aku di kelompok siang yang sekalian membawa perbekalan dan
alat- alat. Di kelompok siang yang udah pernah daki sibayak tu kami kira2 ada
lima orang yaitu, Nanda, bg Rispan , ikbal , hadi dan aku ibenk, kami mulai
titik pendakian dari desa terakhir yaitu desa raja berneh, tapi kali ini kami
melalui jalur pariwisata di karenakan mengingat keadaan gunung sinabung yg
bersebelahan lagi gak kondusif dan sering erupsi yang menyebabkan gempa, jadi
yang kami takuti kalo lewat jalur pertamina yang terletak di dekat pemandian
air hangat si debu debu di situ kami lebih banyak melewati hutan dan terakhir
memanjat cadas, jadi kalo misalnya kami lewat dari sana trus sinabung meletus
bisa jim kami kalok longsor, karena kalo jalur pertamina masih banya terdapat
jurang dan ada sebagian jalan yang longsor bahkan ada jalan yang lebarnya
kurang lebih 10 cm gtu pas2 kakik menapak dan di bawahnya jurang
Kami memulai pendakian kira- kira pukul 4 ato lima
sore gtu, kondisi cuaca di situ kurang mendukung ujan dan kabut jadi kendala yg
harus kami laluli, seperti biasa kami sebelum memilai pendakian membuat
lingkarang dan membaca doa supaya di mudah kan jalan kami, kami mulai pendaikan
dari titik simpang tiga yg bisa tembus kota beras tagi dan si debu debu, jalan
yang kami lalui ber aspal dan tentunya terjal, jaalan dari jalur pariwisata ini
sangat di anjurkan para pemula untuk mendaki karna sebaian jalan sudah di aspal
tetapi kalok menurut ku lebih capek sih dari sini karna jalanya berkelok2 trus
terjal kali kira sampe 45 drajat gtu lah, kami pun terus berjalan santai dan
tidak lupa kami menggnakan matel karena ujan gerimis yang kami hadapi, suhu
disini lumayan dingin dan kabut pun tanpak sangat tebal di ikuti hembusan
angin,
Setelah
kurang lebih berjalan 45 menit kami pun sampai di aspal terakhir
,
disini pun kami mulai mempersiapkan hal hal yang penting karena pendakian yg
sesungguhnya bakal kami hadapi disini pun kami mulai membuat barisan karna
jalannya hanya bisa satu baris dan di antara kami tidak ada yang bole
mendahului, dengan di pimpin bg rispan kami pun mulai pendakian yang dimulai
dari hamparan bukit kapur,
kami berjalan dan memanjat bukit kapur dari
celah2 yang sengaja di buat untuk mendaki, setelah
sampai di atasnya kami pun mula berjalandari pinggir bukit,
dengan jalan yang sangat kecil kurang lebih 10 cm kami pun sangat berhati dengan jurang di samping walupun jurangnya hanya 3 ato 4 meter tapi kalo jatuh patah jugak lah panjang jalan yang sempit ini kirang lebih 150 sampe 200 meter saja
Setelah melewati jalan di kapur, kami mulai memasuki rimbunya hutan pandan berduri disini kami pun harus hati2 karena daun2ya yang melintang menghalani jalan dan terkadang memaksa kami untuk sedikit merunduk, setelah melawati hutan pandan kami pun tiba di satu sudut yang menyerupain pilar, disini pun kami muai menarik napas sebentar dan berfoto-foto,
disini kami pun mulai merasakan hembusan angin yg sangat kencang dan kabut yang sangat tebal
dan batu2 besar dengan jurang menganga di samping kiri kami, berjalan kurang lebih 20 menit dari titik kami itirahat terakhir tiba la kami di semburan asap belerang yang di sisi luar sibayak , disini kami mengehentikan langkah kaki kami di karenakan semburan belerang yang menghalangi jalan kami menuju puncak,
sebenarnya sembura tersebut normalnya tidak menghalangi jalan, tetapi karna angin yang sangat kencang menghembus ke arah jalan kami membawa asap belerang tersebut
bg rispas sebagi pembawa jalan ragu karna
takut membahaya kan nya wa kami, dan bg rispan sempat mengajak balik arah,
tetapi nanda menyarankan kami agara tetap naik karena itu tidak membahaya kan
asalan kita tetap berdiam di situ, dan aku pun mengintruksikan sama kwan2 untuk
menggunakan masker dan kami pun berjalan kurang lebih 10 menit kami pun
tibapuncak kawah sibayak kami sampai kurang lebih jam 6 sore, angin di puncak
sangat lah kencang dan udara pun dingin sekali sampai nusuk2 di tulang kami, di
situ kami cepat2 bergegas mendirikan tenda kami dan kami sangat kesulitan
mendirikan tenda kami di karenakan angin yang bertiup sangat kencang kurang
lebih 15 menit kami di sana tetapi kami tidak berhasih mendirikan tenda kami,
hari pun semakin gelap kabut pekat mulai turun dan kami pun mulai keilangan
akal akhirnya bang Rispan mengintruksikan kami untu kembali turun karena cuaca
yang tidak memungkinkan dengan cepat pun kami mulai turun dan mengangkat tenda
tanpa di paking terebih dahulu, tetapi kabut pun sudah menhalangi langkah kami
jarak pandang pun kurang lebih hanya 5 meter saja walaupun sudah menggunakan
senter tembak, semua anggota pun terlihat panik dan kedinginan sampai2 kami bingung
dengan jalan pualang kami dan di perjalanan turun kaki si hadi tempe pun keram
kami pun terhenti sebentar tepat di semburan belerang yang baunya sangat
menyengat, dan keadaan pun semakin mencekam karna kabut angin kencang dan
dingin mumbuat semua kelihatan panik tp alhamdulilah kakinya si hadi tempe bisa
di bawa jalan lagi dan kami meneruskan jalan dengan cepat dan agak kebingungan
Aku saat itu hanya bisa berdoa agar tidak ada
apa sama tim kami, di saat itu fikiran seakan buntu lelah dan dingin yang
begitu hebat seakan hilang di karenakan faktor ingin hidup, hanya kemaun untuk
hidup yang membuat kami bertahan, tak lama kami berjalan kami pun di bingunkan
sama jalan yang seolah2 buntu di karenakan kabut yang sangat kebal dan kami pu
menghentikan langkah kami sebentar, bang rispan pun berjalan diluan untuk
mencari jalan tetapi tetap juga dia masih ragu dengan jalan tersebut padahal
jalan tesebut hanya lurus saja dan tidak ada jurang yang menganga, dengan
keadaan tersebut aku pun mencoba untuk tetap tenang dan berdoa, dan gak sengaja
aku melihat batu besar yang kami lalui tadi , aku sangat mengingat batu itu
karna ada coretan2 di batu tersebut dan aku lgs bilang ke bang rispasn kalok
batu itu yg kita lalui tadi, kami saat pergi melalui sisi kirinya dan saat ini
kami ada di sisi kananya berti kami terlalu kepinggir mengambil jalan hal
tersebut di karenakan kabut yang tebal dan kami ambil sisi sebelah kiri karena
takut jurang, padahal sih jurangnya masih jauh hahahaha, tp cemana lah bro
keadaanya sangat mencekan antara hidup dan mati, aku jamin kalo kalok gak
begerak2 aja setengah jam di situ pasti hipotenia, soalnya dinginya betol2 jos
sampek2 nusuk ke otak sampai membuat bibir kami pucat , dan setelah kami
menemukan jalan kami tiba di hamparan tanah yang lebarnya Cuma bisa di buat 3
tenda saja kelilingi pohon2 yang
berukuran kurang lebih 2 meter, sebenarnya sih itu jalan tp terpaksa kami
dirikan tenda di situ, disitu lah kami mulai merasa kan kehangatan dan sampai
situ kami langsung bergegas mendirikan tenda untuk menghangatkan badan kami
yang sudah kedinginan luar biasa,
Kira2 jam 7 kami selesai mendirikan tenda dan
berganti pakaian yang basah dengan yang kering,kami pun mulai memasak kopi dan
makanan kami betol2 kedinginan hebat, sbenarnya sih rencanya kami mau
mendirikan 3 tenda tp karena tenaga kami gak tahan dingin kali jadinya Cuma 2
tenda, setelah kami makan dan minum kopi kami pun mulai bercerita2 rupanya apa
yang ada di fikiran kami pas keadaan kenak kabut sama angin kencang di atas tu hampir
sama, kami mengayalkan hangatnya saat di rumah di dalam kamar tiduran dan
nyatai2 hahaha tapi ini lah resikonya
kalok maen2 di alam J .
Di benat ada sedikit penyesalan di karenakan
sebulum kami daki ada teman yang bilang bahwa cuaca di sibayak belakangan ini gak bagus, tp kami
tetap ngotot buat naek jadinya kayak gini lahh tapi ya sudah lah, usah terjadi
dan yg penting tetap bersyukur karna kami tidak apa-apa, syukur juga sih kami
gak lewat dari jalur pertamina atau jalur rimba, kalo misalnya kami lewat situ
ntah apa lah jadinya, dan lebih syukurnya lagi kami daki siang tu gak ada cwek
nya, hmmm kalok ada cweknya gak tau cemana jadinyaa pasti bakalan nangis.
Malam itu pun begitu sunyi dan angin pun tetap sangat
kencang, kami pun berdiam diri di dlam tenda terasa sunyi dan sepi, di benatku
aku berharap malam cepat berlalu dan pagi cepat datang dan waktu pun terasa
sangat lama, sampai akhirnya jam 12 rombongan ke 2 sampe yang d pimpin kak
kamal, mereka kurang lebih 18 orang dengan 3 cewe, alhamdulilah cuaca malam itu gak se extrim sore, setelah mereka tiba semangat mulai lagi terpancar dari jiwa kami yang tadi tersapu kabut dan angin dan kami pun mulai membangun tenda satu lagi. Dan setelah selesai kami mulai bermain gitar dan ngopi2, alunan gitar yang di mainkan bang bemby
menemani kami sampai pagi dan kami pun tidak
tidur hahahahahahaha hanya sebagian saja yang tidur
Setelah pagi tiba pun langit tetap sangat
gelap kabut yang sangat pekat enggan pergi dari kami,dan satu lagi tanpa kami
sadari tenda kami sudah putih2 di karenakan abu vulkanik gunung sinabung yang
terbang ke arah kami, bahkan ternya ternyata malam itu abunya sampai ke kota
medan dan pakam, itu lah yang buat orang tua kami resah, karena gunung sinabung
meletus kok kami pulak naek gunung, walau pun sibayak jaraknya dekat lohh
kurang lebih 2 jam dari sibyak itu gunung sinabung tp pake kendraan brmotor
lah.
Pagi itu pun
kami mulai memasak makanan untuk sarapan denagan di temani pop mie panas dan
segelas kopi kami sarapan, setelah selesai sarapan kurang lebih jam 8 pagi kami berniat untuk ke pilar atou top nya sibayak yang tingganya itu 2. 094 meter dari permukaan laut, kami pun mulai memanjat pilar-pilarnya yang lumayan terjal, separuh perjalanan kami pun mulai berpose haha maklum lah bro poto poto buat dp ato pun pp hahaha kopak !,
lagi sibuk berfoto2 aku pun gak sengaja melihat ke arah gunung sinabung yang tetup awan dan tanpa di sangaka2 sinabung pun erupsi,
subhanallah
sekali bisa menyaksikan erupsinya gunung sinabung dari atas puncak sibaya
betol2 sangat indah dan momen ini sangat berharga
ayooooo cepatttt lariiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
,
karna posisi kami sangatlah dekat dan posisi saat itu kami berada di atas
puncak sibayak. Setelah asik berfoto2 kak kamal pun mengintruksikan kami untuk
turun dan aku pun membawa jalan turun ke bawah dan ke tenda dengan perlahan
tapi pasti kami turun ke dari atas puncak dan ke tenda kurang lebih 10 meter
lagi dari tenda kami pun di hujani abu vulkanik dan kami pun memakai masker dan
masuk ke tenda, tp beda dengan kami sebagaian dari kami malah keluar dan
menikmati ujan vulkanik tersebut subahanallah sekali tidak semua orang bisa menikmati
kekuasaan allah tersebut
Setelah
hujan abu selesai kami pun bergegas untuk turun dan pulang demi keselamatan
kami kami pun mulai bergegas membereskan barang2 dan tenda2 dan kami pun
berjalan sambil brfoto2 juga
sesampai
di simpang 3 kami pun beristirahat dan ngopi2 sambil nunggu jemputan kami tami
sampai sekian jam belum datang juga. Dan kami pun akhirnya menerukan perjalanan
sampai debu-debu pemandian air panas dan
rupnya jemputan kami nunggu di sana
Kami pun pulang ke medan kembali dan di jalan kami
banyak juga menenpu halangan dari mobil ynag mogok sampe rem yang panas dan
akhirnya kami berhenti setengahjam di sembahe untuk mendinginkan rem
dan kami pun berjalan dan sampai di rumah
nanda ato pos kira jam 8 malam
Itu lah cerita kami IMPALA pengalaman yang sangat mengesankan melihat
erupsi sinabung langsung dr puncak sibayak sangat lah menakjubkan kekuasaan
ALLAH itu , walau sebelumnya kami harus kuat melawan baday, satu hal lagi yang
perlu di inginat jagalah sikap kkita saat berarda di alam karna alam itu adalah
teman kita dan jgn lah merusaknya karna hanya itu yang bisa kita berikan untuk
anak cucu kita nanti


