Sabtu, 18 Januari 2014

TERHADANG BADAI DAN EMBUN YANG TEBAL DI GUNUNG SIBAYAK DAN DI SAMBUT OLEH LETUSAN GUNUNG SINABUNG







 
Sejenak kemi melupakan kesibukan rutinitas sehari-hari melupakan kebisingin kendaraan bermotor asap knalpot dan tentujuga rutinitas pribada kami sehari-hari dari pekerjaan atau pun tugas tugas kuliah yang menunpuk membukit, tp tentu bukan itu saja sejenak kami juga melepas kan masalah masalah percintaan walau unjung2nya betekak sama si doi gara2 gak ngapelin dan ninggalin dia 2 hari hehehe maklum bro anak muda, semua ini kami lakukan untuk semata menikmati keindahan alam dari ALLAh sang pencitpa dan menghirup udara yang segar walau pun ujungnya kami ngirup abu vulkaniknya gunung sinabung hehehe, kebetulan sih sinabung lagi bergejolak heheh peaece mann !!!
Kami ini dari salah satu komunitas pencinta alam yang ada di kota medan, untuk lebih tepatnya markas kami di Jln Delitua tepatnya di gang sejarah, nama kumunitas kami adalah IMPALA atau singaktan dari Ikatan Muda Penjelajah Alam, kami terdiri dari pekerja,mahasiswa,dan seniman dari musik dan seni rupa fotografer , komunitas kami ni di peruntukan untuk umum dari semua kalangan dan tidak membatasi, kurang lebih sih anggota kami ada 25 sape 30 an gtu lah tp anggota yg tetap tu ada kurang lebih 15 orangan gtu termaksud ane hehe :D . so buat kawan2 yg ingin gabung masuk aja di fp kami nanti kami pasti kasi kabar kalo mau gerak lagi
Untuk kali ini tujuan kami adalah ke gunung sibayak yang terletak di tanah karo Sumatra utara yang terletak di desa raja berneh yang mempumyai ketinggian kurang lebih 2000 meter dari permukaan laut ” , perjalanan dari medan kurang lebih 2 jaman gtu lah, jarak dari kota medan kurang lebih 54 km yang dapat di tempuh dari simpang pos trus ke arah jamin ginting. Ada banyak tranportasi ke sana tinggal pilih aja mau naek motor naek angkot untuk lebih mudahnya lagi naek angkot bisa nunggu di padang bulan jamin giting disana banya terdapat bus-bus kecil tinggal pilih ajalah pokoknya, tp kemren kami kebetulan carter anggkot, jadi langsung di jemput di markas kami dan kami langsu di antar sampe tujuan yaitu debu debu tempat pemandian air hangat sebelum kota beras tagi
Kami pun berangkat tepat di hari sabtu yang di bagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok siang dan malam, di bagi menjadi dua kelompok di karenakan sebagian rekan ada yang masih kerja ato pun kuliah. Klompok siang terdiri dari 13 orang dan kelompok malam 16 ato 17 gitu lah. Kebetulan kmarin aku di kelompok siang yang sekalian membawa perbekalan dan alat- alat. Di kelompok siang yang udah pernah daki sibayak tu kami kira2 ada lima orang yaitu, Nanda, bg Rispan , ikbal , hadi dan aku ibenk, kami mulai titik pendakian dari desa terakhir yaitu desa raja berneh, tapi kali ini kami melalui jalur pariwisata di karenakan mengingat keadaan gunung sinabung yg bersebelahan lagi gak kondusif dan sering erupsi yang menyebabkan gempa, jadi yang kami takuti kalo lewat jalur pertamina yang terletak di dekat pemandian air hangat si debu debu di situ kami lebih banyak melewati hutan dan terakhir memanjat cadas, jadi kalo misalnya kami lewat dari sana trus sinabung meletus bisa jim kami kalok longsor, karena kalo jalur pertamina masih banya terdapat jurang dan ada sebagian jalan yang longsor bahkan ada jalan yang lebarnya kurang lebih 10 cm gtu pas2 kakik menapak dan di bawahnya jurang
Kami memulai pendakian kira- kira pukul 4 ato lima sore gtu, kondisi cuaca di situ kurang mendukung ujan dan kabut jadi kendala yg harus kami laluli, seperti biasa kami sebelum memilai pendakian membuat lingkarang dan membaca doa supaya di mudah kan jalan kami, kami mulai pendaikan dari titik simpang tiga yg bisa tembus kota beras tagi dan si debu debu, jalan yang kami lalui ber aspal dan tentunya terjal, jaalan dari jalur pariwisata ini sangat di anjurkan para pemula untuk mendaki karna sebaian jalan sudah di aspal tetapi kalok menurut ku lebih capek sih dari sini karna jalanya berkelok2 trus terjal kali kira sampe 45 drajat gtu lah, kami pun terus berjalan santai dan tidak lupa kami menggnakan matel karena ujan gerimis yang kami hadapi, suhu disini lumayan dingin dan kabut pun tanpak sangat tebal di ikuti hembusan angin,
Setelah kurang lebih berjalan 45 menit kami pun sampai di aspal terakhir
, disini pun kami mulai mempersiapkan hal hal yang penting karena pendakian yg sesungguhnya bakal kami hadapi disini pun kami mulai membuat barisan karna jalannya hanya bisa satu baris dan di antara kami tidak ada yang bole mendahului, dengan di pimpin bg rispan kami pun mulai pendakian yang dimulai dari hamparan bukit kapur, 






  kami berjalan dan memanjat bukit kapur dari celah2 yang sengaja di buat untuk mendaki, setelah
 




sampai di atasnya kami pun mula berjalandari pinggir bukit,


dengan jalan yang sangat kecil kurang lebih 10 cm kami pun sangat berhati dengan jurang di samping walupun jurangnya hanya 3 ato 4 meter tapi kalo jatuh patah jugak lah panjang jalan yang sempit ini kirang lebih 150 sampe 200 meter saja


Setelah melewati jalan di kapur, kami mulai memasuki rimbunya hutan pandan berduri disini kami pun harus hati2 karena daun2ya yang melintang menghalani jalan dan terkadang memaksa kami untuk sedikit merunduk, setelah melawati hutan pandan kami pun tiba di satu sudut yang menyerupain pilar, disini pun kami muai menarik napas sebentar dan berfoto-foto,


 disini kami pun mulai merasakan hembusan angin yg sangat kencang dan kabut yang sangat tebal
dan batu2 besar dengan jurang menganga di samping kiri kami, berjalan kurang lebih 20 menit dari titik kami itirahat terakhir tiba la kami di semburan asap belerang yang di sisi luar sibayak , disini kami mengehentikan langkah kaki kami di karenakan semburan belerang yang menghalangi jalan kami menuju puncak,


 sebenarnya sembura tersebut normalnya tidak menghalangi jalan, tetapi karna angin yang sangat kencang menghembus ke arah jalan kami membawa asap belerang tersebut


bg rispas sebagi pembawa jalan ragu karna takut membahaya kan nya wa kami, dan bg rispan sempat mengajak balik arah, tetapi nanda menyarankan kami agara tetap naik karena itu tidak membahaya kan asalan kita tetap berdiam di situ, dan aku pun mengintruksikan sama kwan2 untuk menggunakan masker dan kami pun berjalan kurang lebih 10 menit kami pun tibapuncak kawah sibayak kami sampai kurang lebih jam 6 sore, angin di puncak sangat lah kencang dan udara pun dingin sekali sampai nusuk2 di tulang kami, di situ kami cepat2 bergegas mendirikan tenda kami dan kami sangat kesulitan mendirikan tenda kami di karenakan angin yang bertiup sangat kencang kurang lebih 15 menit kami di sana tetapi kami tidak berhasih mendirikan tenda kami, hari pun semakin gelap kabut pekat mulai turun dan kami pun mulai keilangan akal akhirnya bang Rispan mengintruksikan kami untu kembali turun karena cuaca yang tidak memungkinkan dengan cepat pun kami mulai turun dan mengangkat tenda tanpa di paking terebih dahulu, tetapi kabut pun sudah menhalangi langkah kami jarak pandang pun kurang lebih hanya 5 meter saja walaupun sudah menggunakan senter tembak, semua anggota pun terlihat panik dan kedinginan sampai2 kami bingung dengan jalan pualang kami dan di perjalanan turun kaki si hadi tempe pun keram kami pun terhenti sebentar tepat di semburan belerang yang baunya sangat menyengat, dan keadaan pun semakin mencekam karna kabut angin kencang dan dingin mumbuat semua kelihatan panik tp alhamdulilah kakinya si hadi tempe bisa di bawa jalan lagi dan kami meneruskan jalan dengan cepat dan agak kebingungan

Aku saat itu hanya bisa berdoa agar tidak ada apa sama tim kami, di saat itu fikiran seakan buntu lelah dan dingin yang begitu hebat seakan hilang di karenakan faktor ingin hidup, hanya kemaun untuk hidup yang membuat kami bertahan, tak lama kami berjalan kami pun di bingunkan sama jalan yang seolah2 buntu di karenakan kabut yang sangat kebal dan kami pu menghentikan langkah kami sebentar, bang rispan pun berjalan diluan untuk mencari jalan tetapi tetap juga dia masih ragu dengan jalan tersebut padahal jalan tesebut hanya lurus saja dan tidak ada jurang yang menganga, dengan keadaan tersebut aku pun mencoba untuk tetap tenang dan berdoa, dan gak sengaja aku melihat batu besar yang kami lalui tadi , aku sangat mengingat batu itu karna ada coretan2 di batu tersebut dan aku lgs bilang ke bang rispasn kalok batu itu yg kita lalui tadi, kami saat pergi melalui sisi kirinya dan saat ini kami ada di sisi kananya berti kami terlalu kepinggir mengambil jalan hal tersebut di karenakan kabut yang tebal dan kami ambil sisi sebelah kiri karena takut jurang, padahal sih jurangnya masih jauh hahahaha, tp cemana lah bro keadaanya sangat mencekan antara hidup dan mati, aku jamin kalo kalok gak begerak2 aja setengah jam di situ pasti hipotenia, soalnya dinginya betol2 jos sampek2 nusuk ke otak sampai membuat bibir kami pucat , dan setelah kami menemukan jalan kami tiba di hamparan tanah yang lebarnya Cuma bisa di buat 3 tenda saja  kelilingi pohon2 yang berukuran kurang lebih 2 meter, sebenarnya sih itu jalan tp terpaksa kami dirikan tenda di situ, disitu lah kami mulai merasa kan kehangatan dan sampai situ kami langsung bergegas mendirikan tenda untuk menghangatkan badan kami yang sudah kedinginan luar biasa,
Kira2 jam 7 kami selesai mendirikan tenda dan berganti pakaian yang basah dengan yang kering,kami pun mulai memasak kopi dan makanan kami betol2 kedinginan hebat, sbenarnya sih rencanya kami mau mendirikan 3 tenda tp karena tenaga kami gak tahan dingin kali jadinya Cuma 2 tenda, setelah kami makan dan minum kopi kami pun mulai bercerita2 rupanya apa yang ada di fikiran kami pas keadaan kenak kabut sama angin kencang di atas tu hampir sama, kami mengayalkan hangatnya saat di rumah di dalam kamar tiduran dan nyatai2  hahaha tapi ini lah resikonya kalok maen2 di alam J .
Di benat ada sedikit penyesalan di karenakan sebulum kami daki ada teman yang bilang bahwa cuaca di  sibayak belakangan ini gak bagus, tp kami tetap ngotot buat naek jadinya kayak gini lahh tapi ya sudah lah, usah terjadi dan yg penting tetap bersyukur karna kami tidak apa-apa, syukur juga sih kami gak lewat dari jalur pertamina atau jalur rimba, kalo misalnya kami lewat situ ntah apa lah jadinya, dan lebih syukurnya lagi kami daki siang tu gak ada cwek nya, hmmm kalok ada cweknya gak tau cemana jadinyaa pasti bakalan nangis.
Malam itu pun begitu sunyi dan angin pun tetap sangat kencang, kami pun berdiam diri di dlam tenda terasa sunyi dan sepi, di benatku aku berharap malam cepat berlalu dan pagi cepat datang dan waktu pun terasa sangat lama, sampai akhirnya jam 12 rombongan ke 2 sampe yang d pimpin kak kamal, mereka kurang lebih 18 orang dengan 3 cewe, 




alhamdulilah cuaca malam itu gak se extrim sore, setelah mereka tiba semangat mulai lagi terpancar dari jiwa kami yang tadi tersapu kabut dan angin dan kami pun mulai membangun tenda satu lagi. Dan setelah selesai kami mulai bermain gitar dan ngopi2, alunan gitar yang di mainkan bang bemby



menemani kami sampai pagi dan kami pun tidak tidur hahahahahahaha hanya sebagian saja yang tidur
Setelah pagi tiba pun langit tetap sangat gelap kabut yang sangat pekat enggan pergi dari kami,dan satu lagi tanpa kami sadari tenda kami sudah putih2 di karenakan abu vulkanik gunung sinabung yang terbang ke arah kami, bahkan ternya ternyata malam itu abunya sampai ke kota medan dan pakam, itu lah yang buat orang tua kami resah, karena gunung sinabung meletus kok kami pulak naek gunung, walau pun sibayak jaraknya dekat lohh kurang lebih 2 jam dari sibyak itu gunung sinabung tp pake kendraan brmotor lah.
Pagi  itu pun kami mulai memasak makanan untuk sarapan denagan di temani pop mie panas dan segelas kopi kami sarapan,

setelah selesai sarapan kurang lebih jam 8 pagi kami berniat untuk ke pilar atou top nya sibayak yang tingganya itu 2. 094 meter dari permukaan laut, kami pun mulai memanjat pilar-pilarnya yang lumayan terjal, separuh perjalanan kami pun mulai berpose haha maklum lah bro poto poto buat dp ato pun pp hahaha kopak !,





 lagi sibuk berfoto2 aku pun gak sengaja melihat ke arah gunung sinabung yang tetup awan dan tanpa di sangaka2 sinabung pun erupsi,



subhanallah sekali bisa menyaksikan erupsinya gunung sinabung dari atas puncak sibaya betol2 sangat indah dan momen ini sangat berharga

, tp kami pun tidak bole berlama2 terlena dengan indahnya asap yang membubung tinggi itu
ayooooo cepatttt lariiiiiiiiiiiiiiiiiiiii


, karna posisi kami sangatlah dekat dan posisi saat itu kami berada di atas puncak sibayak. Setelah asik berfoto2 kak kamal pun mengintruksikan kami untuk turun dan aku pun membawa jalan turun ke bawah dan ke tenda dengan perlahan tapi pasti kami turun ke dari atas puncak dan ke tenda kurang lebih 10 meter lagi dari tenda kami pun di hujani abu vulkanik dan kami pun memakai masker dan masuk ke tenda, tp beda dengan kami sebagaian dari kami malah keluar dan menikmati ujan vulkanik tersebut subahanallah sekali tidak semua orang bisa menikmati kekuasaan allah tersebut








Setelah hujan abu selesai kami pun bergegas untuk turun dan pulang demi keselamatan kami kami pun mulai bergegas membereskan barang2 dan tenda2 dan kami pun berjalan sambil brfoto2 juga

























































































sesampai di simpang 3 kami pun beristirahat dan ngopi2 sambil nunggu jemputan kami tami sampai sekian jam belum datang juga. Dan kami pun akhirnya menerukan perjalanan 

sampai debu-debu pemandian air panas dan rupnya jemputan kami nunggu di sana
Kami pun pulang ke medan kembali dan di jalan kami banyak juga menenpu halangan dari mobil ynag mogok sampe rem yang panas dan akhirnya kami berhenti setengahjam di sembahe untuk mendinginkan rem 


dan kami pun berjalan dan sampai di rumah nanda ato pos kira jam 8 malam

Itu lah cerita kami IMPALA  pengalaman yang sangat mengesankan melihat erupsi sinabung langsung dr puncak sibayak sangat lah menakjubkan kekuasaan ALLAH itu , walau sebelumnya kami harus kuat melawan baday, satu hal lagi yang perlu di inginat jagalah sikap kkita saat berarda di alam karna alam itu adalah teman kita dan jgn lah merusaknya karna hanya itu yang bisa kita berikan untuk anak cucu kita nanti








Tidak ada komentar:

Posting Komentar